Memahami Relasi Manusia dan Lingkungan dalam Pemikiran Friedrich Engels (1)

  • Whatsapp
Ilustrasi polusi yang memicu krisis iklim. | Shutterstock

Artikel ini pertama kali dimuat dalam buku “Friedrich Engels: Pemikiran dan Kritik” (2020) terbitan Ultimus. Friedrich Engels adalah pemikir yang dikenal sebagai tandem abadi Karl Marx. Meski namanya kerap tersamarkan di balik popularitas Marx, pemikiran Engels sesungguhnya bernilai dan kaya.

Pandangannya tentang hubungan manusia dan lingkungan kami nilai relevan dengan situasi krisis iklim saat ini. Untuk itu, tulisan ini dimuat ulang atas izin penulis agar dapat tersiar sebagai diskursus publik. Judul dan isi artikel mengalami penyuntingan seperlunya. Tulisan ini bagian pertama dari tiga tulisan serial.

Bacaan Lainnya





Fuad Abdulgani | Pengajar Sosiologi FISIP Universitas Lampung

Marxisme pernah dikritik oleh para pakar dan pemerhati lingkungan karena dianggap menjustifikasi dominasi manusia atas alam. Manusia dianggap mampu merekayasa lingkungan eksternal atau alam tempat hidupnya melalui kekuatan-kekuatan produktif yang dikembangkan tanpa batas. Akan tetapi, relasi produksi kapitalistik membatasi potensi pengembangan kekuatan produktif ini. Melalui perubahan radikal atas kepemilikan sarana produksi, potensi kekuatan produktif diyakini bisa direalisasikan secara penuh dan akan mampu mengatasi berbagai elemen negatif dari industri modern di dalam sosialisme (Saito, 2017: 9-10).

Ringkasnya, ekonomi (industri) bisa terus tumbuh dan dampak negatifnya atas lingkungan bisa diatasi oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam pengertian inilah Marxisme dipandang mencerminkan gagasan yang produktivistik, teknologis, dan industrialis alias Marxisme yang Promethean[1].

Sejak dua dekade terakhir anggapan di atas dipatahkan oleh serangkaian pembacaan baru yang mengemukakan pentingnya dimensi ekologis dalam pemikiran Marx dan Engels. Para pemikir ekososialis seperti Paul Burkett, John Bellamy Foster, dan Kohei Saito secara garis besar menekankan urgensi dimensi ekologis yang tak bisa dilepaskan dari analisis ekonomi politik Marx. Urgensi ini diartikulasikan dalam konsep metabolisme yang Marx gunakan untuk memahami relasi manusia dan alam. Dalam pengertian ini, teori patahan metabolis (metabolic rift) mengemuka sebagai penjelasan atas krisis ekologi sebagai cermin dari kontradiksi fundamental dalam moda produksi kapitalis. Dengan kata lain, pandangan ekologis ini bersifat imanen dalam kritik ekonomi politik Marx (Saito 2017: 13-14).

Kendati para pemikir di atas lebih banyak menggali kembali karya-karya Marx, perhatian atas dimensi ekologis serta ilmu pengetahuan alam sebetulnya sangat kentara dalam karya-karya Friedrich Engels. Dalam The Return of Nature (2020), John Bellamy Foster menyatakan bahwa pemikiran ekologi Engels telah melengkapi gagasan Marx dan berkontribusi dalam meluaskan arah analisis menuju ranah-ranah yang baru: perubahan evolusioner, koevolusi, emergence, dan kesatuan dari hal-hal yang bertentangan. Kritik Engels terhadap cara pandang yang menempatkan alam sebagai entitas “liyan” untuk dieksplotasi menunjukkan bahwa alam pada gilirannya akan selalu “membalas” setiap tindakan manusia. Sebab, manusia adalah bagian dari alam dan berada dalam relasi dialektis dengan alam.

Esai ini ditujukan untuk memperkenalkan pemikiran ekologi Friedrich Engels. Saya berupaya untuk mendialogkan pandangan Engels dengan bidang kajian ekologi manusia atau antropologi lingkungan sebagai cabang ilmu yang fokus menelaah relasi antara manusia dan lingkungan. Pembahasan Engels soal dialektika sebetulnya sangat penting untuk dikemukakan ketika membicarakan topik tersebut[2]. Akan tetapi, karena kekurangan yang saya miliki, hal itu tidak dapat diulas di sini. Tulisan ini diarahkan untuk a) mengulas butir-butir pokok pemikiran ekologi Engels, dan b) meninjau relevansi yang kuat antara pemikiran ekologi Engels dengan perkembangan terkini dari ekologi manusia.  

Pandangan Ekologis Engels

Perhatian Engels atas kesaling-hubungan antara manusia dan lingkungan telah mengemuka sejak awal mula karir kepenulisannya. Publikasi Engels yang pertama, Letters from Wüppertal, ditulis pada awal 1839. Tulisan ini terdiri dari empat bagian yang dimuat secara periodik oleh Telegraph für Deutschland antara Maret dan April 1839[3].

Karya tulis ini dianggap mencerminkan kemarahan kelompok Jerman Muda terhadap kehidupan di kota tempat tinggal mereka, Bermen dan Elberfeld. Engels secara blakblakan mengomentari obskurantisme, intoleransi, sikap buruk sangka, kefanatikan, hipokrisi, dan keterbelakangan dari kaum Pietis[4] yang ia nilai anti-kosmopolitan, anti-Pencerahan, dan anti-rasionalisme (Carver, 1990: 31-35). Meski intensinya tidak secara khusus mengetengahkan persoalan lingkungan, pada karya tulis ini kita sudah dapat melihat bagaimana perhatian Engels terhadap relasi manusia dan lingkungan.

Bagian pertama dari Letters memerikan lanskap dan fisiologi dua kota kembar Bremen dan Elberfeld yang dilalui aliran sungai Wupper. Pada abad 18 dan 19, dua kota yang sekarang tergabung menjadi Kota Wüppertal ini merupakan wilayah industri terbesar di Eropa kontinental; khususnya didominasi oleh industri tekstil dan bengkel pandai besi. Narasi Engels menyoroti lanskap yang tercemar, baik itu oleh polusi udara maupun sungai:

“Gelombang berwarna ungu dari aliran sungai yang sempit terkadang mengalir dengan cepat, terkadang mengalir lambat di antara gedung-gedung pabrik berasap dan berlatar keputihan dengan benang-benang yang berserakan. Warna merah menyala, bagaimanapun, bukan berasal dari pertempuran berdarah… melainkan dari sejumlah kerja pencelupan menggunakan pewarna merah Turki.”

Selanjutnya, ia menyajikan gambaran kontras antara kota industri beserta arsitekturnya yang mentereng dengan kelompok sosial yang hidup urakan, kecanduan alkohol, dan tanpa pekerjaan yang jelas. Engels menyatakan bahwa kemunculan jenis kelompok sosial di lapisan bawah masyarakat tersebut disebabkan oleh pekerjaan di pabrik-pabrik. Ia gambarkan bagaimana para buruh bekerja dalam ruangan beratap rendah dan lebih banyak menghirup asap dan debu batu bara ketimbang oksigen, bahkan sejak usia enam tahun! Sementara, para pekerja perempuan menenun di mesin pintalnya masing-masing sejak pagi hingga malam hari. Beban kerja yang demikian berat lantas membuat kaum buruh terjerembab, jika bukan pada mistisisme maka pada alkoholisme.

Menurut Terrel Carver, profesor ilmu politik yang menulis biografi Engels, detail narasi Engels dalam menggambarkan kota industri dengan sungai yang tercemar serta buruknya kondisi kehidupan dan pemukiman buruh merupakan hal yang tidak lazim dalam gaya penulisan saat itu. Narasi tersebut muncul berdasarkan pengalaman Engels dan pengamatannya atas detail lingkungan fisik, lanskap, dan pola pemanfaatan ruang oleh manusia (Carver, 1990: 32).

Perhatian Engels atas dampak kondisi lingkungan tempat tinggal dan lokasi kerja serta rutinitas harian dari kaum buruh terhadap kondisi kesehatan mereka juga mengemuka di dalam Letters. Pada gilirannya, topik ini akan menjadi perhatian utama Engels ketika pada 1842 ia pergi dari kota kelahirannya Bremen menuju kota Manchester di Inggris, pusat dari industri tekstil dunia pada masa itu.

Ilustrasi | ist

Pada Desember 1842, Engels tiba di Manchester, Inggris. Kedatangan ini sebenarnya adalah “perjalanan dinas” Engels untuk mempelajari bisnis tekstil kapas milik ayahnya di sana. Di luar tugas bisnis, Engels meluangkan sebagian besar dari waktu senggangnya untuk pergi menelusuri pemukiman buruh di kota industri paling maju di Inggris pada saat itu.

Sebagian besar waktu yang dihabiskan Engels untuk menelusuri dan bergaul dengan kaum buruh di lingkungan tempat tinggal mereka dilakoni bersama Mary Burns[5], anak gadis dari pasangan buruh tekstil asal Irlandia yang tinggal di salah satu wilayah termiskin di Manchester. Mary Burns dikenal sebagai pendukung Chartisme[6] dan nasionalisme Irlandia. Ia memainkan peran penting sebagai pemandu Engels dalam menyusuri kantung-kantung pemukiman buruh (Foster, 2020: 173-174). Interaksi yang intens dengan kaum buruh industri Inggris di dalam lingkungan hidup mereka inilah yang kemudian melahirkan karya The Condition of the Working Class in England (1845).

Seperti dikemukakan John Bellamy Foster, The Condition merupakan karya tulis tentang kehidupan kelas pekerja Inggris dengan fokus pada analisis atas relasi antara lingkungan dan manusia. Perhatian utamanya, yakni kondisi fisiologi pemukiman dan tempat kerja kaum buruh di dalam lingkungan kota industri serta dampaknya terhadap kesehatan buruh. Simak, misalnya, sepenggal narasi Engels dalam The Condition yang menunjukkan bagaimana faktor polusi udara dan fisiologi kota berdampak pada kondisi kesehatan buruh:

Sentralisasi penduduk di kota-kota besar menunjukkan adanya pengaruh yang tidak diharapkan; udara kota London tidak pernah jernih dan kaya oksigen, sebagaimana udara di pedesaan; dua setengah juta paru-paru, 250.000 orang, hidup dalam suatu area seluas tiga sampai empat mil, mengkonsumsi sejumlah besar oksigen yang tidak tersirkulasi dengan baik, karena metode pembangunan kota itu sendiri menghalangi ventilasi. Gas asam karbonik, dan arus utama dari udara melewati atap-atap kota. Paru-paru penghuni yang gagal untuk menerima pasokan oksigen, berkonsekuensi pada keletihan mental dan fisik serta vitalitas yang rendah… Kesehatan dan stagnasi dari rakyat pekerja di kota besar, oleh karenanya menimbulkan dampak terburuk dalam kesehatan publik, karena mereka memproduksi banyak gas yang menimbulkan penyakit serta hembusan dari aliran yang terkontaminasi… Bagaimana mungkin, dalam kondisi seperti ini, kelas yang paling rendah ini dapat berumur panjang dan hidup sehat? Apalagi yang bisa diharapkan ketimbang tingkat kematian yang tinggi, rangkaian epidemi yang tak berakhir, dan kemerosotan hebat fisik kaum pekerja?” (Engels, 1987: 127-129).

Dalam hemat saya, cara Engels mengamati bagaimana berbagai faktor lingkungan berdampak pada kondisi fisik (kesehatan) populasi buruh mencerminkan konsep dasar dalam ilmu ekologi, yakni arus materi, dalam konteks hubungan timbal balik antara sistem sosial dan ekosistem (Iskandar, 2017: 24-25). Sistem sosial masyarakat kapitalis industri yang tengah tumbuh di Inggris mewujud di antaranya dalam bentuk tata ruang kota dan alokasi wilayah pemukiman yang didasarkan kelas sosial.

Sebagai kelas paling bawah dalam susunan masyarakat kapitalis, kelas pekerja menempati pemukiman yang dibangun tanpa memerhatikan kelayakan infrastruktur dasar. Kondisi lingkungan ini membuat sirkulasi udara tidak berjalan lancar, kuantitas oksigen kurang, ditambah dengan kandungan gas karbon asam yang diproduksi dari pembakaran membuat kualitas udara yang dihirup populasi amat buruk.

Absennya infrastruktur sanitasi dan drainase menyebabkan ekskresi yang dihasilkan populasi mengotori lingkungan pemukiman. Air yang dikonsumsi pun tidak layak; sistem sosial memengaruhi akses populasi buruh atas air bersih. Sebagaimana Engels singgung, “Mereka semua menderita karena air yang kotor semenjak pipa-pipa air hanya tersedia bagi mereka yang bisa membayar, dan air sungai begitu tercemar untuk bisa mereka gunakan” (Engels, 1987: 131).

Kesaling-hubungan unsur organik dan anorganik dalam lingkungan fisik tersebut berdampak secara langsung pada kesehatan populasi. Unsur-unsur anorganik—buruknya ventilasi, drainase, dan kebersihan—menyediakan tempat berkembang biak bagi unsur organik seperti bakteri dan virus yang pada gilirannya menjangkiti populasi buruh. Paduan kedua unsur ini mengondisikan timbulnya berbagai macam penyakit seperti tuberkolosis, tipes, kolera, dan kekurangan nutrisi dialami oleh laki-laki dan perempuan, baik dewasa dan anak-anak. Di samping itu, muncul pula dampak-dampak fisiologis yang dialami buruh seperti gangguan ortopedik, pernapasan, dan penglihatan, bahkan kematian yang timbul sebagai akibat dari kondisi aktivitas dan lingkungan kerja. Degradasi kualitas hidup ini pada gilirannya memacu tingginya kasus kematian akibat penyakit pada populasi kelas pekerja.

Melalui pengamatannya atas faktor-faktor lingkungan terhadap populasi pekerja, uraian Engels dalam The Condition mampu memberi gambaran kepada pembaca bahwa ketertindasan kaum buruh tidak hanya berlangsung secara sosial, tapi juga secara fisik berkenaan dengan degradasi kualitas kesehatan mereka sebagai akibat dari lingkungan yang buruk. Maka itu, dapat dimengerti jika Engels mengalamatkan sikap acuh kaum borjuis terhadap malapetaka yang dialami kaum buruh ini sebagai sebuah “pembunuhan secara sosial” (social murder) manakala fakta-fakta mengenaskan tentang epidemi yang dialami kaum buruh telah diketahui secara luas melalui koran-koran harian Inggris, tapi dibiarkan begitu saja (Engels, 1987: 33). Ditegaskan kembali oleh Foster, “pembunuhan” tersebut tidak hanya berarti secara sosial, tetapi juga perlu dipahami dalam arti lingkungan (Foster, 2020: 196).

The Condition telah berkontribusi dalam menjelaskan epidemiologi sosial dari kehidupan kelas pekerja di kota-kota industri serta etiologi dari suatu penyakit. Lebih lanjut lagi, alih-alih menggambarkan buruh industri yang secara sempit hanya dipandang dalam kaitannya dengan pabrik, The Condition merupakan upaya Engels dalam membangun konsep kelas pekerja yang dikarakterisasi berdasarkan aspek lingkungan (Foster, 2020: 197). Argumen yang dibangun oleh Engels dalam menjelaskan epidemi yang dialami populasi buruh industri pada masa itu tentunya masih relevan dengan situasi dewasa ini, manakala berbagai kerusakan dan pencemaran lingkungan yang disebabkan aktivitas industri telah memunculkan penyakit dan degradasi kualitas hidup yang terutama dialami oleh kelompok-kelompok masyarakat yang terpinggirkan.   

Satu hal yang menarik dari aspek metodologis, The Condition dapat dipandang sebagai pionir metode penelitian kerja lapangan etnografis. Sekalipun dalam periode pengerjaan buku tersebut Engels tidak berafiliasi dengan para pelopor antropologi atau memiliki intensi dalam kaitan dengan pengembangan ilmu tersebut. Klaim ini dibasiskan pada cara Engels dalam upaya mengetahui realitas sosial suatu komunitas (buruh industri) di suatu lokasi tertentu (kota industri).

Metode penelitian yang Engels lakukan sekitar 150 tahun lalu itu bisa dibilang merupakan hal yang jamak dilakoni oleh antropolog masa kini. Contohnya, data primer diperoleh dari tangan-pertama, melalui interaksi, pengamatan terlibat dan wawancara di lokasi penelitian. Dalam melaksanakan kerja lapangan, Engels juga ditemani dan dipandu oleh Burns sebagai rekan kerja yang notabene berasal dari komunitas tineliti. Ini merupakan hal yang lazim dilakukan oleh antropolog ketika melakukan penelitian lapangan.

Kemudian, informasi tangan-pertama dipadukan dengan telaah atas dokumen dan laporan-laporan kuantitatif (seperti jumlah populasi dan statistik penderita penyakit) maupun kualitatif (seperti reportase deskriptif tentang kondisi kesehatan serta kondisi pemukiman dan sanitasi), lalu dianalisis dan diinterpretasi melalui bingkai teoretik tertentu, yakni ekonomi politik[7]. Pada akhirnya, lahirlah The Condition of the Working Class in England, sebuah karya klasik yang menggambarkan kehidupan kelas proletariat industri di Inggris pada abad 19.

Bisa dikatakan bahwa, pertama, metode kerja yang dilakukan Engels dalam menulis The Condition, termasuk uraian di dalamnya, dianggap telah memenuhi standar dari sebuah penelitian antropologi modern. Kedua, sebagaimana dikemukakan Foster, The Condition merupakan kombinasi dari kritik atas ekonomi politik dan kritik atas kondisi lingkungan dan epidemi dalam hubungannya dengan reproduksi kelas pekerja di bahwa moda produksi kapitalisme. Kiranya tidak berlebihan apabila karya Engels ini bisa dinilai sebagai salah satu perintis yang mengantisipasi munculnya kajian yang kemudian berkembang dalam antropologi lingkungan atau ekologi manusia. (bersambung)


[1] Istilah Promethean diambil dari nama salah satu dewa Yunani Kuno, Prometheus, yang dikisahkan sebagai sosok yang melawan para dewa dengan mencuri api Olympus untuk diberikan kepada manusia. Ia dipandang sebagai simbol intelegensia manusia. Karl Marx menorehkan apresiasi atas tokoh ini di dalam disertasinya tentang pemikiran Demokritos dan Epikurus (1841). Istilah Promethean kemudian digunakan para pengkritik Marx untuk mengalamatkan apresiasi Marx atas hasrat manusia yang tidak terbatas dalam mengendalikan dan mendominasi alam.

[2] Pembaca yang hendak mendalami diskusi Engels soal dialektika sebagaimana dipresentasikan dalam Dialectics of Nature dapat melihat karya tulis Kaan Kangaal berjudul Friedrich Engels and Dialectics of Nature (2020). Di samping itu, untuk pembahasan filsafat alam Engels dapat membaca tulisan Martin Suryajaya berjudul Naturalisme Historis: Rekonstruksi Analitis atas Filsafat Alam Friedrich Engels (2015).

[3] Tulisan yang ditulis saat Engels berusia 18 tahun itu menandai awal mula kontaknya dengan gerakan literasi Jerman Muda. Jerman Muda merupakan kelompok penulis yang membawa semangat Pencerahan dan resisten terhadap pandangan Kristianitas yang sempit di kalangan orang Jerman. Mereka lebih menunjukkan komitmen untuk memperjuangkan hak partisipasi politik dan kebebasan berpendapat ketimbang memperjuangkan nasib kelas pekerja atau lapisan paling bawah dari masyarakat. Gagasan mereka cenderung tersirkulasi di kalangan terdidik saja (Carver, 1990: 35). 

[4] Pietisme (piety atau saleh) adalah gerakan reformasi keagamaan di kalangan Lutheran Jerman pada abad 17. Gerakan ini menekankan keyakinan pribadi melawan pandangan gereja Lutheran yang menitikberatkan doktrin dan teologi dalam kehidupan umat. Pietisme menyebar dan berkembang melalui aktivitas sosial dan pendidikan. https://www.britannica.com/topic/Pietism

[5] Mary Burns kemudian menjadi pasangan hidup Engels meski mereka tidak mengikat diri di dalam institusi pernikahan.

[6] Chartisme adalah gerakan kelas pekerja yang muncul di Inggris untuk memperjuangkan reformasi di parlemen. Chartisme merupakan gerakan pertama dengan karakter kelas pekerja yang berkembang sebagai protes atas ketidakadilan kekuasaan politik dan industri di Inggris. https://www.britannica.com/event/Chartism-British-history

[7] Dua tahun sebelum karya ini terbit pada 1845, Engels telah menulis risalah yang bersifat teoretik yakni Outlines of the Critique of Political Economy (1843) yang kemudian menginspirasi Marx untuk menuangkan kritiknya atas ekonomi politik.

Banner-DOnasi.png

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 37 = 46