Di balik aroma kopi Lampung dan rimbun durian Dairi, sebuah reklamasi martabat sedang berlangsung. Lewat credit union, para petani mengonversi receh menjadi aset miliaran. Angka ini bukan sekadar modal, melainkan benteng ekonomi kolektif. Dari bilik institusi akar rumput itu, petani berhenti menunggu nasib dan mulai menggenggam kendali atas masa depan mereka.
Pagi di ketinggian 1.250 meter bermula dari wajan besi. Sri Wahyuni mengaduk biji kopi dengan sodet kayu. Di luar, Bukit Rindingan hilang ditelan kabut, tapi Sri tidak melihat. Matanya terpaku pada biji kopi yang berputar dan berubah warna menjadi cokelat tua. Asap tungku naik ke langit-langit.
Di sudut lain, para perempuan memasukkan kopi ke mesin giling. Bunyinya menderu. Mereka mengemasnya dalam plastik ‘Kopi Srikandi’. Di bawah lereng, rumah-rumah kayu berdiri kaku menghadap kebun kopi yang basah. Inilah Ulubelu.

Dahulu, hidup Sri tentang menunggu. Ia berdiri di pinggir jalan Pekon Ngarip dengan karung di pundak. Seorang pengepul datang mengendarai motor. Ia kemudian menulis angka di atas kertas. Sri cuma bisa menerima.
Uang panen itu datang dalam jumlah besar, lalu habis. Di desa yang hidup dari detak jantung pohon kopi, siklus ini berulang tiap tahun. Saat buah di dahan masih hijau, dapur mulai dingin. Keluarga-keluarga kembali mencari pinjaman membeli beras.
“Kalau paceklik, kami tidak punya pegangan,” kata Sri.
Pada 2015, rasa lapar itu menjadi gagasan. Sri dan tujuh belas perempuan duduk melingkar. Mereka baru saja pulang dari pelatihan keuangan. Seseorang mengucapkan satu kata: Koperasi.
Orang-orang Ngarip tidak percaya. Mereka teringat pengurus yang berbohong dan raibnya simpanan. Banyak yang memilih menonton dari jauh.
Namun, delapan belas perempuan itu tetap duduk. Mereka menamainya Koperasi Simpan Usaha (KSU) Srikandi Maju Bersama. Modal awal hanya sepuluh ribu rupiah, dicatat di sebuah buku tulis. Segelintir perempuan ini tidak sedang membangun bank, tetapi membentuk kebiasaan menyisihkan receh.
Tahun-tahun pertama, hanya sedikit yang masuk lingkaran. Warga lain memilih berdiri di pinggir jalan dan menonton. Mereka menunggu koperasi itu gagal.
Musim berganti. Anggota yang semula delapan belas kini tiga ratus dua puluh satu orang. Di dalam buku kas, sepuluh ribu rupiah pertama telah biak menjadi dua koma tiga miliar rupiah.

Angka-angka itu menjelma benda-benda. Ada gudang dengan tumpukan karung pupuk. Ada kambing-kambing mengembik di kandang komunal. Namun, perubahan paling sunyi tetap di kebun.
Dahan-dahan dibiarkan utuh hingga buahnya benar-benar ranum. Setiap musim, mereka hanya melakukan petik merah, menyisihkan lima kilogram untuk koperasi. Biji-biji itu tidak lagi berakhir di atas motor tengkulak. Dari kaki Bukit Rindingan, ratusan kilogram bubuk kopi menempuh rute panjang ke Bandar Lampung, Bogor, Serang, hingga Palembang.
Di Ulubelu, hasil perjalanan itu turun ke tangan anggota sebagai Sisa Hasil Usaha (SHU). Jumlahnya memang tidak besar. Namun, bagi Sri dan kawan-kawan, itu adalah uang pertama dari sesuatu yang selama ini tak pernah mereka kendalikan: harga atas keringat.
Kini, orang-orang tidak lagi memandang curiga. Mereka datang, lalu menuliskan nama di buku anggota. Tahun ini, KSU Srikandi sudah menjangkau tiga belas desa. Mereka sedang mencari seribu orang lagi.
Koperasi pun tak lagi barisan perempuan. Laki-laki ada di sana. Keputusan ini lahir dari keinginan keluarga petani untuk berada dalam satu sistem.
Sri menatap ‘Kopi Srikandi.’ Ia tak pernah menduga pertemuan delapan belas orang akan sejauh ini. Di balik angka anggota dan aset miliaran, tertanam sesuatu yang menetap: para petani tak lagi menunggu nasib. Mereka telah mengambil kendali.
Gema kemandirian ini tidak hanya di Ulubelu. Lima jam dari sana, di Desa Pematang Tahalo, Jabung, seorang pria bernama Sugianto sedang menyemai bibit. Jemarinya menyentuh permukaan yang lembap. Di Lampung Timur, orang-orang hidup dari tanah. Ia ingin petani punya tempat berhimpun yang lebih dari sekadar lumbung uang.
“Kalau petani jalan sendiri, kami lemah,” kata Sugianto. “Tapi kalau bersolidaritas, kami saling menopang.”
Sugianto sudah sepuluh tahun mengurus pendidikan di Credit Union (CU) Mardi Siwi. Ia juga pernah memimpin Koperasi Gautama Sejahtera. Namun, ia tidak membawa teori besar ke desanya. Sugianto mengetuk pintu demi pintu, lalu menjelaskan bagaimana receh bisa menjadi dana bersama.

Warga mulai datang. Mereka melihat angka-angka simpanan dicatat dengan jernih di buku tabungan. Mereka duduk melingkar untuk mengambil keputusan. Di Jabung, Sugianto membangun kepercayaan melalui buku itu.
Baginya, credit union bukan sekadar urusan setor dan tarik tunai. Ini adalah cara hidup. Di tengah sistem yang memaksa orang saling sikut, ia menawarkan jalan untuk melangkah bersama.
“Kapitalisme itu membuat orang berjalan sendiri-sendiri. Sedangkan koperasi mengajak orang berjalan bersama,” ujarnya.
Jejak koperasi ini melintasi batas provinsi. Jauh di perbukitan Sumatra Utara, di antara desa-desa yang bergelantungan pada nasib pertanian, sebuah riwayat serupa sedang terkandung. Di Desa Lae Ambat, Tianggur Nainggolan telah bergerak hampir dua dekade.
Pada 2007, ia masuk CU Maju Tani. Tianggur ingin punya benteng untuk uang. Saat itu, hidup di Lae Ambat adalah tentang utang. Petani meminjam uang untuk bibit, lalu membayarnya dengan hasil panen. Sering kali uang itu hanya cukup untuk menutup lubang lama.
“Kadang, uang panen tidak tersisa,” kata Tianggur.
Petani terjepit dalam siklus itu: meminjam uang, memanen hasil, membayar utang, lalu meminjam lagi. Tianggur ingin keluar dari sana. Ia dan warga mulai mengumpulkan uang receh, membangun dana bersama.

Simpanan itu dipinjamkan kembali dengan bunga rendah. Petani memakainya agar tetap bisa menanam tanpa bayang-bayang utang luar. Awalnya, hanya sedikit orang percaya. Banyak yang mengira gerakan itu akan berhenti dalam sekejap. Ternyata tidak.
Dua puluh tahun berlalu. Kini, CU Maju Tani punya tiga puluh anggota dengan aset tiga ratus juta rupiah. Angka itu mungkin kecil bagi bank besar. Namun, bagi petani Lae Ambat, itu adalah uang yang nyata.
Di sana, mereka tak hanya setor dan tarik uang. Di sela transaksi, terselip obrolan tentang harga pupuk yang mencekik atau rencana tanam musim depan. Credit union telah bermutasi menjadi ruang kebersamaan, tempat mereka membangun otot ekonomi sendiri.
“Kami tidak lagi berjalan sendiri, tapi bersama-sama jadi mandiri,” ucap Tianggur.
Perjalanan ini terus bergerak. Di Desa Perrik Mbue, delapan puluh dua kilometer dari Lae Ambat, Mulpen Lumbangaol masih ingat saat modal tidak tersedia. Tanahnya menumbuhkan durian, kopi, dan jagung. Tetapi, petani tidak punya uang saat musim tanam tiba.
“Cari ke bos,” kata Mulpen tentang masa lalu. Sosok “bos” itu memberikan uang, namun mengambil bunga sepuluh persen. Di hadapan sang bos, petani menandatangani kertas karena tak punya pilihan lain.
Saat panen tiba, hasil keringat petani sudah habis untuk membayar utang. Mulpen menolak siklus itu. Melalui CU Martunas, ia mengajak warga mengumpulkan uang receh, melawan cengkeraman sang bos.
Hasilnya nyata. Pupuk dan bibit tidak lagi dibayar dengan bunga tinggi. Mulpen bisa menyekolahkan dan membesarkan tujuh anaknya. Dahulu memang mustahil. Sekarang itu terjadi.

Di Perrik Mbue, ketenangan itu mulai menetap. Pohon durian tumbuh di halaman, kebun kopi merimbun, dan ladang jagung kini mekar tanpa bunga sang bos. Modal tidak lagi menjadi barang mustahil.
Bagi warga desa, credit union seperti Maju Tani dan Martunas bukan sekadar urusan angka. Di sana, petani duduk bersama. Mereka berbagi bibit hingga bertukar cara bertahan saat musim sulit.
Gerakan ini bagian dari jaringan yang lebih luas. Sejak 2004, Yayasan Petrasa memberikan dukungan teknis. Mereka mendampingi petani agar punya modal dan tahu cara mengolah tanah dengan benar.
Di Dairi, pendampingan bukan soal perintah. Petrasa membentuk PPODA, sebuah himpunan yang merajut kelompok-kelompok tani di pelosok desa agar tidak lagi berjalan sendiri.
Lewat wadah ini, petani tak hanya bicara soal hama. Mereka mengadakan pertemuan dan pelatihan organik, hingga akhirnya credit union lahir di tingkat desa.
“Petani perlu punya sistem ekonomi yang mereka bangun sendiri,” kata Ganda Sinambela, salah satu penggerak Petrasa. Ganda tidak melihat credit union sebagai bank kecil. Baginya, itu adalah cara petani menghadapi dunia yang selama ini membuang mereka.
Ganda bersama penggerak Petrasa lainnya berkeliling desa selama bertahun-tahun. Ia membawa model dari Martunas dan Maju Tani. Di bawah naungan PPODA, yang baru saja merayakan dua dekade perjalanannya, lebih dari 5.000 petani di 70 desa telah terhimpun. Dari sana, lahir 104 credit union dengan aset melampaui 10 miliar rupiah. Itu adalah uang untuk bekerja bersama.

Di ruang-ruang pertemuan PPODA, solidaritas menemukan bentuk teknisnya. Credit union yang punya banyak uang membantu yang kekurangan. Dana itu mengalir untuk mengisi lumbung tetangga yang kosong, lalu dikembalikan lagi nanti.
Orang-orang menyebutnya gotong royong. Bagi Ganda, ini adalah kedaulatan. Di tangan petani, uang menjadi alat melayani, bukan memerintah.
“Ini benar-benar dari mereka, oleh mereka, dan untuk mereka,” ujarnya.
Tantangan datang. Lembaga keuangan formal masuk ke pelosok. Mereka menawarkan pinjaman cepat dengan bunga yang terlihat rendah. Bagi sebagian petani, uang itu tampak mudah didapat.
Namun, Ganda tahu bank hanya memberi uang. Bank tidak membangun ikatan. Di dalam koperasi, hubungan yang terjalin lebih dari sekadar angka di atas slip setoran. Ada rasa memiliki di sana. Keputusan diambil dalam musyawarah. Tanggung jawab dipikul bersama.
Dari Lembah Ulubelu hingga Perbukitan Dairi, credit union bukan sekadar lumbung modal. Ia menjadi jangkar ekonomi petani yang berakar pada solidaritas lama: kekuatan yang lahir dari tangan-tangan saling menggenggam.(*)
Laporan Derri Nugraha
Catatan: Liputan ini mengalami koreksi pada Minggu, 22 Maret 2026, pukul 14.08 wib.







