Menautkan fragmen ingatan di Asrama Daksinapati dengan serangan air keras, novel Namaku Alam menandai kedekatan […]
Menautkan fragmen ingatan di Asrama Daksinapati dengan serangan air keras, novel Namaku Alam menandai kedekatan sastra […]
Berita Terkait
Konsentris
Menggenggam Nasib Sendiri: Revolusi Receh Petani Sumatra di Bilik Credit Union
Di balik aroma kopi Lampung dan rimbun durian Dairi, sebuah reklamasi martabat sedang berlangsung. Lewat […]
Banjir Bandar Lampung: Musibah yang Dirancang di Atas 2,3 Persen RTH
Kematian bocah sepuluh tahun di Bandar Lampung bukan sekadar variabel cuaca, melainkan muara dari rancang […]
Pasar Murah: Perjudian Waktu Bagi Mereka yang Membeli Hari Esok
Pasar murah menyingkap sebuah paradoks: datang sebagai bantuan, namun menuntut bayaran berupa waktu produktif. Di […]
HIV di Lampung: Prioritas Menepi, Diskriminasi Tak Pernah Mati
Situasi HIV di Lampung adalah potret kegagalan struktural. Ketika negara memalingkan wajah demi proyek nasional, […]
Indonesia Episentrum Peradaban Dunia: Sebuah Oksimoron Fadli Zon
Gelar Profesor Kehormatan Fadli Zon dan klaim Indonesia sebagai episentrum peradaban dunia adalah sebuah oksimoron […]
Tuan Rumah yang Menumpang: Hidup dalam Retakan Bandar Lampung
Sebuah mekanisme eksklusi sosial bekerja dalam diam di Bandar Lampung: di mana kota bukan lagi […]
Menulis Sejarah Sebagai Perlawanan
Sejarah nasional sedang disulap menjadi instrumen amnesia yang menyembunyikan luka perampasan di balik “gincu” pembangunan. […]
Menjamin Petugas Gizi, Mengabaikan Guru Honorer: Bagaimana Negara Merasionalkan Ketimpangan
Rencana pengangkatan petugas SPPG menjadi PPPK sembari membiarkan jutaan guru honorer menguap dalam ketidakpastian sistemik […]
Penjajahan Korporasi: Ketika Negara dan Modal Menjadi Satu Napas di Lampung
Di Lampung, negara bermutasi menjadi mesin legalitas bagi penjajahan korporasi. Lewat instrumen kebijakan dan jargon […]
Tidak Ada Pos Lagi.
Tidak ada laman yang di load.
