Nyawa di Ujung Selang Oksigen: Desain Ulang Penanganan Pandemi Covid-19

TOKO alat kesehatan di Jalan dr Rivai, Penengahan, Tanjungkarang Pusat, Bandar Lampung, memasang tulisan "Maaf, Isi Oksigen Kosong", Sabtu, 14/8/2021. Pengumuman itu dipasang agar warga tidak bertanya soal tabung oksigen. | konsentris.id/Derri Nugraha

Pelbagai persoalan muncul di tengah masa krisis Covid-19, di antaranya ketersediaan kamar rumah sakit dan kelangkaan tabung oksigen. Masyarakat pun mengandalkan kemampuan sendiri untuk bisa selamat. Situasi ini isyarat bagi eksekutif dan legislatif untuk mendesain ulang kebijakan penanganan pandemi Covid-19.





Bacaan Lainnya

Ovi Naeni (28) sedang berbelanja di salah satu pasar di Kotabumi, Lampung Utara, ketika menerima telepon dari ayahnya, Idi Kesuma. Idi meminta Ovi segera menyusul ke Rumah Sakit Handayani. Martina Wati, bibi Ovi, sedang dibawa ke rumah sakit karena mengalami sesak napas.

Tanpa pikir panjang, Ovi menyudahi belanja. Ia segera memutar setir menuju RS Handayani.

Hari itu, Jumat, 16 Juli 2021, Martina, warga Desa Suka Jaya, Kecamatan Sungkai Jaya, Lampung Utara, mengalami sesak napas. Nyawanya nyaris melayang akibat telat mendapat oksigen.

Sejak pukul 14.30 WIB, Martina mulai susah bernapas. Selama empat hari berturut-turut, ia demam, menggigil, batuk, dan sakit tenggorokan. Saat itu, anak Martina mengabari Idi bahwa kondisi ibunya semakin memburuk. Napasnya tersengal-sengal.

Mendengar hal itu, Idi bergegas dari kantornya yang berjarak sekitar 30 menit perjalanan menuju rumah Martina. Idi bersama keluarga akhirnya membawa Martina ke puskesmas terdekat. Namun, saat itu ditolak karena puskesmas sedang sterilisasi. Mereka disarankan ke rumah sakit. Pihak keluarga pun memutuskan membawa Martina ke RS Handayani. Jaraknya sekitar 23 kilometer dari lokasi mereka.

Dalam perjalanan, Martina sempat beberapa kali tak sadarkan diri. Idi coba menggerakkan tangan dan tubuh Martina untuk mengembalikan kesadaran. Beruntung, tubuh Martina kembali merespons dan bernapas.

Mereka sampai di RS Handayani sekitar jam empat sore. Waktu itu, Ovi belum tiba.

Martina kemudian diperiksa petugas medis di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Handayani. Saturasi oksigen menunjukkan angka 91%. Menurut dokter, saturasi cukup rendah dan bisa jadi terindikasi Covid-19. Namun, saat itu Martina tidak dites swab. Alasannya, Martina harus segera mendapat oksigen. Dokter menyarankan untuk langsung ke rumah sakit umum agar segera mendapat oksigen. Sebab, oksigen di RS Handayani habis.

Idi kembali menghubungi Ovi. Ia menyuruh Ovi putar balik untuk mencari rumah sakit yang memiliki oksigen. Ovi banting setir menuju Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ryacudu, Kotabumi. Pihak keluarga menyusul membawa Martina keluar dari RS Handayani. Jarak antara RS Handayani dan RSUD Ryacudu tak terlalu jauh. Sehingga, tak lama setelah Ovi sampai, keluarga yang membawa Martina juga tiba.

Di RSUD Ryacudu, Ovi bertemu dua petugas medis di IGD. Ovi menjelaskan ke petugas bahwa bibinya sedang butuh oksigen akibat sesak napas. Namun, petugas langsung menolak. Alasannya, oksigen di RSUD habis dan mereka hanya menerima pasien Covid-19.

Ovi beradu argumen. Ia meminta tenaga medis dapat memberi pertolongan pertama kepada bibinya.

“Bibi saya sudah sesak sekali. Bahkan, sempat hilang napasnya. Minta tolong untuk pertolongan pertamanya seperti apa, apakah diperiksa dahulu atau bagaimana?” kata Ovi kepada tenaga medis. Ia menceritakan kembali situasi tersebut, Rabu, 21 Juli 2021.

Tenaga medis hanya mengulang jawaban awal: Oksigen habis dan hanya menerima pasien Covid-19. Padahal, saat itu, Ovi dan keluarga belum tahu apakah Martina terpapar Covid-19 atau tidak, karena belum diperiksa. Jawaban itu diulang sampai tiga kali.

Selagi Ovi memohon kepada tenaga medis, kondisi Martina di dalam mobil tampak kritis. Tubuhnya lemah. Ia megap-megap.

“Tahu kan, Mas? Sudah sesak begitu, bahkan keluarga sudah pasrah, seperti mau ‘lepas’ (meninggal),” ujar Ovi mengingat kondisi Martina saat itu.

Ovi kembali meyakinkan petugas medis agar mau memeriksa bibinya. Kali ini, ia bicara dengan nada lebih tinggi.

“Saya tahu di sini oksigen habis, tapi setidaknya ada langkah awal atau diperiksa dahulu apakah covid atau bukan. Kan ada solusinya, bukan hanya ngomong oksigen habis. Kalau begini terus semua pasien bisa meninggal karena tidak ada pertolongan pertama,” kata Ovi dengan kesal.

Namun, hal itu tak cukup untuk meyakinkan petugas. Mereka tetap disarankan ke rumah sakit yang menerima pasien bukan Covid-19 di Bandar Jaya atau Kota Bandar Lampung.

Jarak menuju Bandar Lampung sangat jauh. Mereka pun menghubungi kerabat dan beberapa kenalan klinik. Akhirnya, keluarga membawa Martina ke salah satu klinik di Prokimal, Lampung Utara. Pihak keluarga mendapat informasi bahwa di sana tersedia tabung oksigen. Jaraknya sekitar 11 kilometer dari RSUD Ryacudu.

Setiba di klinik, setelah melihat kondisi Martina, dokter yang bertugas justru menyarankan untuk langsung ke rumah sakit. Sebab, tak ada oksigen dan ruang rawat inap. Selain itu, kondisi pasien terbilang parah.

Setelah itu, mereka membawa Martina ke seorang mantri yang tak jauh dari lokasi klinik. Keluarga memohon agar Martina dapat pertolongan, minimal untuk meredakan sesak napasnya. Mantri tersebut mau menolong. Setelah diperiksa, saturasi oksigen martina kembali turun menjadi 90%. Martina diberi obat berupa pil oleh sang mantri.

Tak lama, mantri menyarankan agar Martina segera dibawa ke rumah sakit. Sebab, kondisinya sudah sangat lemah.

Kemudian, keluarga kembali membawa Martina ke Klinik Medical Center (KMC) di Negara Bumi, Kecamatan Sungkai Tengah. Jaraknya sekitar 19 kilometer dari Prokimal. Mereka tiba di sana sekitar pukul 18.30 WIB.

Martina diperiksa perawat. Saturasi oksigennya kembali turun jadi 89%. Perawat bilang, di tempat itu memang bisa rawat inap, namun oksigen terbatas. Jadi, tetap disarankan ke rumah sakit.

Lalu, keluarga mendapat kabar bahwa salah satu tetangga mereka punya tabung oksigen ukuran satu meter kubik. Salah satu anggota keluarga bergegas kembali ke desa mereka untuk mengambil tabung oksigen. Selagi mengambil oksigen, keluarga menunggu di KMC.

Akhirnya, Martina dapat oksigen sementara. Kondisi Martina sempat membaik saat itu. Namun, perawat di sana tetap menyarankan untuk membawa ke rumah sakit. Sebab, tabung oksigen kecil tak akan bertahan lama. Selain itu, klinik tersebut tak memiliki dokter spesialis, hanya dokter umum. Sampai detik itu keluarga belum mengetahui, apakah Martina terpapar covid atau tidak.

Sekitar pukul 20.00 WIB, pihak keluarga membawa Martina menuju Lampung Tengah. Mereka menghubungi saudara yang bekerja di RSUD Demang Sepulau Raya. Menurut kerabat itu, RSUD Demang tak menerima pasien dari luar kabupaten. Sebab, ruangan rumah sakit penuh. Pihak RSUD Demang menyarankan untuk ke Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM) di Bandar Lampung.

Lalu, keluarga menghubungi RS Harapan Bunda, Gunung Sugih, Lampung Tengah. Beruntung, pertugas rumah sakit mengabarkan bahwa keluarga bisa membawa Martina untuk mendapat perawatan. Berbekal tabung oksigen kecil untuk bertahan, Ovi dan keluarga membawa Martina melintasi dua kabupaten berjarak sekitar 80 kilometer untuk mendapat pertolongan.

Sekitar pukul 22.00 WIB, mereka sampai di RS Harapan Bunda. Di sana, Martina di swab tes antigen dan polymerase chain reaction (PCR). Hasil antigen, Martina reaktif Covid-19. Karena menggunakan layanan BPJS, hasil PCR baru keluar setelah dua minggu. Selama dua jam mendapat perawatan, kondisi Martina mulai membaik. Dokter menyarankan untuk isolasi mandiri di rumah. Sebab, ruang isolasi di sana penuh. Martina dan keluarga akhirnya pulang sekitar dini hari.

Ovi tak bisa lupa pengalaman hari itu. Hampir sembilan jam Ovi dan keluarga mencari rumah sakit yang dapat menolong bibinya.

“Kalau kondisinya seperti ini, semua pasien bisa tiba-tiba meninggal karena telat mendapat pertolongan. Apalagi, kalau keluarga pasien kurang tanggap,” ucap Ovi.

Sehari sebelum wawancara, Ovi juga mendapat kabar bahwa ayah temannya meninggal dunia karena telat mendapat oksigen.

“Semalam dapat kabar, ayah teman saya di Tulangbawang Barat, dia lagi isolasi mandiri dan kekurangan oksigen. Dia tanya apakah ada oksigen, saya bilang ada, tapi dipakai bibi. Sekitar jam satu malam, ayahnya meninggal akibat sesak yang berkelanjutan dan kekurangan oksigen,” ujarnya.

Kami mencoba mewawancarai teman Ovi. Namun, yang bersangkutan belum bersedia karena sedang berduka.

Kodisi serupa dialami Iin Mutmainah, warga Kemiling, Bandar Lampung, saat mengantar suaminya, Ivan Sumantri Bonang, ke rumah sakit.

Pada hari yang sama saat Ovi mengantar Martina. Tepatnya, Jumat pagi, 16 Juli 2021, sekitar pukul 07.40 WIB, Ivan mengembuskan napas terakhirnya di RSUDAM Lampung. Hasil diagnosis dokter, Ivan mengalami pelemahan jantung dan kadar leukosit tinggi.

Apa yang dialami Ivan sama seperti yang dialami Martina: Ditolak rumah sakit karena penuh dan telat mendapat oksigen.

Sejak 29 Juni 2021, Ivan didiagnosis mengidap tuberkulosis (TBC). Di rumahnya memang tersedia tabung oksigen kecil ukuran satu meter kubik guna dipakai saat sewaktu-waktu Ivan mengalami sesak. Pagi hari, Kamis, 15 Juli 2021, Ivan kembali merasakan sesak napas. Saat itu, persediaan oksigen di rumah habis.

Iin mencoba mencari oksigen di sekitar Bandar Lampung. Hingga sore hari, pencarian Iin tak membuahkan hasil.

“Kami menghubungi depot pengisisan oksigen, semua bilang kosong. Kami cari kemana-mana memang beneran kosong,” kata Iin, Kamis, 12 Agustus 2021.

Melihat kondisi suami yang kian memburuk, Iin bersama anak-anaknya memutuskan membawa Ivan ke RS Bumi Waras, Telukbetung. Sampai di IGD, Ivan menjalani tes swab antigen. Hasilnya, Ivan terinfeksi Covid-19. Dokter juga bilang, jantung Ivan mulai melemah. “Kemungkinan karena dari siang tak mendapat oksigen,” ujar Iin.

Pihak RS Bumi Waras menyarankan IIn untuk mencari rumah sakit lain yang punya ruang isolasi. Sebab, ruang isolasi RS Bumi Waras sudah penuh.

Iin bilang ke dokter bahwa mereka tak punya oksigen. Iin meminta agar suaminya tetap di IGD sampai besok pagi. Tetapi, pihak RS Bumi Waras tidak mengizinkan karena IGD merupakan ruang observasi.

Akhirnya, Iin meminta anaknya untuk mencari oksigen. Sementara mencari oksigen, Iin tetap menunggu Ivan di IGD RS Bumi Waras. Sekitar jam sembilan malam barulah mereka dapat oksigen. Ada kerabat yang mengabari bahwa mereka bisa isi ulang oksigen di PT Aneka Gas Industri (Samator Groups), Natar, Lampung Selatan.

Berbekal oksigen kecil itulah Iin membawa Ivan keluar dari RS Bumi Waras untuk mencari rumah sakit yang memiliki ruang isolasi. Malam itu, mereka berkeliling mencari rumah sakit. Pertama, mereka mendatangi RSUDAM Lampung. Di sana, Iin melihat pasien membeludak hingga ke selasar rumah sakit. Ia bertanya kepada petugas apakah ada ruangan. Petugas itu bilang tak ada ruangan.

“Kalau mau tetap di rawat, ya beginilah keadaannya (banyak pasien di selasar),” ujar Iin menirukan petugas.

Mempertimbangkan kondisi suaminya yang memiliki komorbid paru-paru, Iin bergeser mencari rumah sakit lain. Mereka menuju RS Pertamina Bintang Amin. Di sana ada ruangan, tetapi tidak ada regulator oksigen. Oksigen yang dimiliki Iin untuk menopang Ivan bertahan pun kecil, regulatornya berbeda.

Iin bertanya kepada petugas rumah sakit. Bila ia bisa mendapat regulator, apakah suaminya dapat dirawat di sana. Pihak RS Bintang Amin pun mempertimbangkan hal itu.

Iin dan keluarga bergegas mencari regulator oksigen ke sejumlah toko alat kesehatan. Hasilnya, nihil. Semua tempat kosong (tak ada regulator).

Dari RS Pertamina Bintang Amin, Iin dan keluarga bergeser ke RS Bhayangkara Polda Lampung. Tapi, ditolak karena tidak ada oksigen. Mereka tidak terima pasien dengan keluhan sesak napas.

Iin lanjut membawa suami menuju Rumah Sakit Daerah dr A Dadi Tjokrodipo Bandar Lampung. Tapi, petugas di sana bilang bahwa tidak ada oksigen. Oksigen hanya cukup untuk pasien yang di rawat. Iin sempat marah di sana. Sebagai rumah sakit pemerintah, mestinya RSD Dadi Tjokrodipo mempersiapkan kebutuhan oksigen.

Di sana terdapat regulator yang tak terpakai. Karena benar-benar darurat, Iin mencoba meminjam regulator untuk dibawa ke RS Pertamina Bintang Amin. Sebab, di RS Pertamina Bintang Amin terdapat ruangan, tapi tidak ada regulator tabung oksigen.

Jawaban petugas di RS Dadi Tjokrodipo, “Maaf bu, kami tidak bisa (meminjamkan regulator) karena mesti ada keputusan manajemen.” Iin langsung menimpali, “Gile aje, orang sudah mau mati masih aja mikirin aturan.” “Aku pinjam deh, apa yang bisa aku tinggalkan (sebagai jaminan),” tambah Iin. Tetapi, pihak RS Dadi Tjokrodipo tetap tidak mau.

Saat itu, Iin benar-benar tak ada pilihan. Oksigen kecil yang sedari tadi digunakan untuk menopang Ivan sudah habis. Akhirnya, Iin dan keluarga memutuskan untuk kembali ke RSUDAM Lampung. “Ya sudah deh, di selasar tidak apa-apa, asalkan dapat oksigen,” ujar Iin pasrah.

Ketika tiba di RSUDAM, kondisi sudah mulai lengang tak seperti kedatangan awal. Saat itu, sudah dini hari. Ketika melaporkan bahwa kondisi suaminya sesak dan memiliki TBC, rumah sakit langsung memberi ruang isolasi dan oksigen. Tetapi, jantung Ivan sudah sangat lemah karena sempat kehabisan oksigen sewaktu di perjalanan.

Esok hari, Jumat, 16 Juli 2021, sekitar pukul setengah enam pagi, tenaga kesehatan melakukan tes swab PCR kepada Ivan. Saat itu, Ivan sudah mulai hilang kesadaran. Satu jam kemudian, Ivan meninggal dunia. Hasil swab PCR belum keluar. Hasilnya baru keluar besoknya, Sabtu, 17 Juli 2021. Berdasar hasil pemeriksaan tes swab PCR, Ivan positif Covid-19.

Iin menyesalkan peristiwa yang dialami suaminya. Menurutnya, pemerintah seharusnya bisa membuat sistem pelayanan kesehatan yang lebih baik.

“Artinya, keselamatan (nyawa) harus lebih berharga dari pada prosedur/manajemen yang berbelit,” ujar Iin. “Hendaknya kita semua lebih memiliki hati nurani.”

Kelangkaan Oksigen

“Maaf, isi oksigen kosong.” Sudah beberapa bulan terakhir tulisan itu tergantung di depan toko alat kesehatan dan kedokteran Lampung Medika di Jalan Dr Rivai, Penengahan, Tanjungkarang Pusat.

“Memang stok dari pabrik tak menentu, apalagi selama pandemi,” kata Efdal, pemilik toko.

Efdal terpaksa memasang tulisan oksigen kosong supaya orang tak berhenti di tokonya. Sebab, cukup banyak warga yang mencari oksigen. “Biar mereka tak perlu berhenti dan bertanya, jadi saya pasang tulisan,” ujarnya.

Efdal memiliki sekitar empat tabung besar berukuran enam meter kubik. Pada hari biasa sebelum pandemi, stok oksigen melimpah. Bahkan, agen oksigen sampai ditolak karena stok oksigen masih banyak.

Lampung Medika, toko alat kesehatan dan kedokteran, memasang tulisan “Oksigen Habis” selama satu bulan terakhir. Permintaan oksigen terus meningkat, namun stok terbatas. | Derri Nugraha

Saat pandemi, semua berubah. Stok yang biasa setiap hari ada menjadi tak menentu. Terkadang tiga hari sekali atau bahkan seminggu sekali baru kebagian oksigen.

“Itu saja jatahnya dikurangi. Biasanya bisa ambil banyak, sekarang hanya boleh dapat dua tabung (enam meter kubik),” kata Efdal.

Selagi berbincang dengan Efdal, setidaknya ada tiga warga yang hendak mengisi oksigen. Namun, raut wajah mereka langsung kecewa saat melihat tulisan yang tergantung di depan toko.

Salah satu warga sempat berhenti. “Saya sudah cari di tujuh tempat, tapi kosong semua,” ujar Agung Pratama (30), warga Pasir Gintung, yang mencari oksigen untuk ibunya.

Sudah dua hari berturut-turut Agung mencari oksigen. Namun, belum dapat. “Ibu kena diabetes dan sesak napas, jadi memang butuh oksigen,” ucapnya.

Selain kelangkaan oksigen, Agung juga mengeluhkan kenaikan harga oksigen. “Biasanya dahulu itu harganya Rp25 ribu per tabung (satu meter kubik). Sekarang, bisa Rp50 ribu-Rp100 ribu,” ujar Agung.

Sebelum meninggalkan kami, Agung sempat mengoceh dengan nada kesal. “Tolonglah pemerintah kebijakannya, kalau begini terus rakyat kecil ini susah,” kata Agung seraya menyalakan sepeda motornya.

Sekitar satu kilometer dari Lampung Medika, terdapat depot pengisian oksigen cukup besar. Tepatnya isi ulang oksigen milik keluarga Samsul di Jalan Tamim, Gang Merpati, Tanjungkarang Barat.

Depot tersebut merupakan usaha milik keluarga yang dikelola turun-temurun. Sejak Samsul meninggal dunia, usaha itu dikelola anaknya, Selvi (34) bersama keluarga. Terdapat kurang lebih 70 tabung oksigen berukuran enam meter kubik. Satu tabung enam meter bisa dipakai untuk mengisi sekitar tiga tabung ukuran satu meter kubik.

Sebelum pandemi, stok oksigen melimpah. Sekali ambil oksigen di pabrik, Selvi bisa mendapat sekitar 40 tabung oksigen setiap hari, pagi dan sore. Ia mendapat pasokan oksigen dari PT Aneka Gas Industri (Samator Groups), Natar, Lampung Selatan. Beberapa bulan terakhir, stok menipis.

“Bisa dapat 10 tabung saja sudah bersyukur,” kata Selvi, 14 Agustus 2021. Bahkan, kakak Selvi harus mengantre lama untuk bisa dapat jatah oksigen. “Biasanya pagi dan sore dapat terus, sekarang berangkat subuh dapatnya baru malam,” ujarnya.

Sejak kelangkaan oksigen, Selvi hanya menjual tabung oksigen untuk pasien yang membutuhkan. “Biasanya jual untuk bengkel las juga, tapi sekarang dari perusahaan (PT Aneka Gas Industri) dan Polda Lampung hanya boleh jual ke pasien,” ujarnya.

Jumlah warga yang mendatangi depot Samsul meningkat setiap harinya. Selama sebulan terakhir, Selvi bisa melayani sekitar 50 orang, bahkan lebih setiap harinya. “Baru datang stok, 3-4 jam sudah habis,” kata Selvi.

Warga yang datang ke tempat Selvi tak hanya yang membutuhkan oksigen di rumah. Warga yang dirawat di rumah sakit pun cukup banyak yang datang. Sebab, di rumah sakit oksigen habis.

“Banyak dari rumah sakit umum, dari RS Urip. Bahkan, pernah dokter dari RS Urip telepon, tanya oksigen ada atau enggak. Soalnya ada pasien yang butuh, tapi kosong di sana,” ujar Selvi.

Pernah juga ada warga sampai menangis karena oksigen kosong. Kebetulan saat itu di tempat Selvi stok sedang kosong. Sedangkan anggota keluarganya ada yang kritis.

Akibat kelangkaan oksigen itu, harga tabung oksigen meningkat tajam. Sebelum pandemi, harga tabung oksigen ukuran satu meter kubik biasanya Rp900 ribu-Rp1 juta. Kini, harganya bisa mencapai Rp2,7 juta. 

“Kalau yang enam meter kubik harga semula Rp2 juta sekarang Rp4 juta,” kata Selvi.

Pantau Covid Lampung, koalisi warga yang meminjamkan tabung oksigen, mencatat sepanjang 5-18 Agustus, sebanyak 26 warga di Bandar Lampung telah meminjam oksigen gratis. Sedangkan jaringan Pantau Covid Lampung di Pringsewu telah meminjamkan enam tabung oksigen sejak 12-18 Agustus. Beberapa warga yang meminjam merupakan pasien yang dirawat di rumah sakit.

“Iya, mereka meminjam karena di rumah sakit kosong (tabung oksigen),” kata Khorik Istiana, relawan Pantau Covid Lampung.

“Kan aneh ya gitu, dari rumah sakit tapi pinjam tabung. Ternyata ketika saya tanya-tanya, sebelum masuk rumah sakit mereka sudah ditawari kesepakatan kalau pasien covid maupun noncovid yang butuh oksigen juga harus ikut mencari oksigen sendiri,” ujarnya.

Lebih parah, terdapat warga yang tidak jadi meminjam. Sebab, anggota keluarganya sudah meninggal karena telat mendapat oksigen.

“Kemarin, dua warga yang belum sempat meminjam karena pasien sudah meninggal dunia,” ujar Khorik.

Pemerintah Tak Punya Skema

Juru Bicara (Jubir) Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Lampung dr Reihana bilang, pemerintah telah bekerja keras dalam menangani pandemi Covid-19.

Terkait kelangkaan oksigen, menurutnya, Lampung sudah punya satgas oksigen yang memantau keperluan oksigen di RS rujukan Covid-19. Lampung juga dapat bantuan sebanyak 409 buah oxygen concentrator sebagai pengganti oksigen jika oksigen tabung habis.

“Sudah terdistribusi ke RS rujukan di kabupaten/kota, termasuk di RSUDAM,” kata Reihana, Minggu, 15 Agustus 2021.

Reihana juga mempertanyakan terkait warga yang sulit mengakses rumah sakit. Ia menyebut bahwa ketersediaan tempat tidur rumah sakit di Lampung sudah membaik.

Bed occupancy rate (BOR) rumah sakit di Lampung sudah 58%, di mana yang sulit? Hanya BOR di Bandar Lampung dan Lampung Utara yang masih tinggi, semoga ini juga sudah turun. Tolong jangan hanya mendengar sepihak, harus berimbang beritanya,” ujarnya.

Pemerintah juga sudah menyiapkan 200 ruangan di Wisma Haji yang akan digunakan sebagai ruang isolasi dan ICU Covid-19. Namun, hingga saat ini belum bisa dioperasikan karena masih ada beberapa persiapan. “Insya Allah dalam waktu dekat segera dioperasionalkan,” kata Reihana.

Untuk vaksin, memang terkendala dari pusat. Menurutnya, Lampung perlu 14 Juta dosis. Namun, sampai saat ini baru 1.5 juta dosis yang diterima.

“Vaksinasi tidak bisa menghalangi virus masuk ke tubuh, tapi dengan vaksinasi kami berikhtiar agar jika terkena covid gejalanya tidak berat,” ujarnya.

Kepala Dinas Kesehatan Lampung itu juga menjelaskan soal angka kematian akibat Covid-19. Ia membandingkan angka kematian di Lampung dengan Jawa dan Bali. Menurutnya, secara kumulatif, angka kematian Lampung lebih kecil dari dua daerah tersebut.

“Jika dimasukkan dalam rumus untuk penghitungan case fatality rate (CSR), Lampung jadi besar persentasenya karena pembaginya. Angka kasus positif tak sebanyak Jawa dan Bali,” kata Reihana. Solusi yang ditawarkannya adalah memperluas 3T (test, tracing, treatment) di kabupaten/kota.

Sejak 1 Januari hingga 8 Agustus 2021, Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan Lampung menjadi provinsi dengan angka kematian tertinggi se-nasional dengan persentase 7,1%. Sedangkan untuk vaksinasi dosis 1 dan 2 di Lampung menjadi paling rendah di Indonesia, yaitu sebesar 10,8% dan 7,21% per 18 Agustus 2021.

Bed occupancy ratio atau tingkat keterisian tempat tidur rumah sakit di Lampung kerap melebihi ketetapan nasional, yakni sebesar 75%. Artinya, mayoritas rumah sakit di Lampung penuh dan nyaris kolaps. Bahkan, sepanjang Juli 2021, RSUDAM sampai merawat para pasien di selasar.

Data Badan Pembangunan Perencanan Daerah (Bappeda) Lampung juga mencatat setidaknya sejak 29 Juni-18 Agustus 2021, Lampung belum pernah bersih dari zona merah. Puncaknya, pada 3 Agustus 2021, sebanyak 14 kabupatan/kota masuk kategori zona merah. Hanya menyisakan dua kabupaten kategori zona oranye. Hal itu bertahan sampai 10 Agustus 2021. Per 18 Agustus 2021, jumlah kasus terkonfirmasi Covid-19 di Lampung mencapai 43.397. Adapun jumlah kematian akibat Covid-19 mencapai 3.180 jiwa.

Ketua DPRD Lampung Mingrum Gumay saat diwawancarai usai rapat paripurna istimewa di gedung DPRD setempat, Senin, 16/8/2021. | Derri Nugraha

Ketua DPRD Lampung Mingrum Gumay tak menampik data-data tersebut. Menurutnya, Lampung merupakan gerbang Sumatra. Sehingga, mobilitas masyarakat tak hanya dari Lampung, namun juga dari luar Lampung yang berpotensi membawa virus.

“Kami berharap, warga dari daerah sekitar Lampung, ketika melintas di Provinsi Lampung harus memastikan dirinya tidak membawa virus,” ujar Mingrum usai rapat paripurna di gedung DPRD, Senin, 16 Agustus 2021.

Wakil Ketua Satgas Covid-19 Lampung itu juga bilang, DPRD sudah menjalankan fungsinya. DPRD terus melakukan koordinasi dan evaluasi dengan pemerintah.

“Termasuk gubernur, wali kota, dan bupati di kabupaten/kota, bahkan sampai tingkat desa kami evaluasi. Faktor apa yang menyebabkan klaster baru,” ujarnya.

Ketika ditanya soal langkah strategis ke depan soal penanganan pandemi, Mingrum hanya menjawab akan terus berkoordinasi bersama-sama antara Satgas Covid-19 Lampung dan forum koordinasi pimpinan daerah (Forkompimda) untuk mencari solusi.

Pemerhati kebijakan publik Dodi Faedlulloh menilai, pemerintah tak memiliki skema dalam penanganan pandemi di Lampung. Menurutnya, penanganan pandemi di Lampung seringkali berjalan terlambat. Operasionalisasi rumah sakit darurat yang sampai saat ini belum berjalan salah satu gejalanya. Padahal dari beberapa catatan, permintaan rujukan kasus Covid-19 meningkat di Lampung, sehingga tidak mampu lagi menerima pasien. Di lapangan masih sering terdengar kabar betapa sulitnya warga untuk mendapatkan hak pelayanan kesehatan.

“Angka penyerapan anggaran penanganan Covid-19 di Lampung juga termasuk rendah,” kata Dodi.

Akademisi FISIP Unila itu mencoba mengurai masalah yang menyebabkan kekacauan penanganan pandemi di Lampung. Dalam pandangannya, hal mendasar yang tidak dilakukan Pemprov Lampung adalah belum adanya peta jalan (roadmap) dalam penanganan pandemi. Sehingga, berbagai kebijakan yang dilakukan bersifat reaktif dan parsial.

“Padahal, perubahan-perubahan yang terjadi, termasuk krisis karena pandemi ini perlu direspons secara proaktif dan berjangka panjang,” ujarnya

Tidak adanya peta jalan penanganan pandemi yang komprehensif, salah satunya berdampak ketika pemerintah tidak bisa membaca kemungkinan situasi kelangkaan oksigen. Kelangkaan itu terjadi berkali-kali di Lampung. Sampai ada beberapa inisiatif kerelawanan di masyarakat dalam hal penyediaan tabung oksigen. Hal itu menunjukkan masyarakat kesulitan memperoleh oksigen. Bahkan, tidak sedikit pasien ketika dirawat di rumah sakit harus membawa oksigen sendiri.

Pemprov Lampung juga seyogianya memiliki dynamic governance, yaitu kemampuan pemerintah untuk terus menyesuaikan kebijakan, institusi, struktur yang beradaptasi terhadap berbagai perubahan, dalam hal ini pandemi. “Sayangnya, Pemprov Lampung belum berkarakter dynamic governance tersebut,” kata Dodi.

Menurutnya, ketika pemerintah mencoba mengeksekusi program, penanganan di lapangan pun berjalan tidak optimal. Contoh terbaru adalah pelaksanaan vaksinasi.

“Sudahlah informasi vaksinasi itu tidak jelas bagi masyarakat, eh ketika implementasi kacau. Beberapa kali malah menciptakan kerumunan,” ujarnya. “Ada komunikasi publik yang tidak bagus dilakukan pemerintah dalam pelaksanaan vaksinasi.”

Dodi berharap, dalam situasi yang mendesak seperti ini, pemerintah segera menyusun peta jalan penanganan pandemi yang berdasakan pengetahuan, harus eviden based policy.

“Berdasarkan data riil di lapangan. Jangan hanya data-data normatif yang kadang tidak menunjukkan kondisi aslinya. Apakah bed di ruang isolasi di rumah sakit itu benar-benar sudah memadai? Apakah test dan tracing di puskesmas itu sudah dilakukan secara benar? Apakah, misal, para driver ambulans ketika menangani pasien yang terpapar sudah benar-benar menggunakan alat pelindung diri yang baik? Apakah warga yang isolasi mandiri (isoman) di rumah benar-benar telah mendapatkan bantuan pangan dan vitamin yang dibutuhkan?”

Kemudian, eviden based policy berarti harus sesuai dengan basis pengetahuan. Artinya, pemerintah perlu selalu dalam kondisi melek terhadap informasi dan pengetahuan yang baru dalam penanganan Covid-19.

Dodi pesimistis pandemi berakhir jika skema penanganan tak segera dievaluasi.

 “Jika tidak ada evaluasi, tidak menilai secara komprehensif kebijakan yang telah dilaksanakan, dan tidak ada desain ulang untuk meningkatkan kualitas kebijakan penanganan pandemi ini, saya khawatir pandemi menjadi sulit teratasi. Lagi-lagi yang akan terkena dampak dan dirugikan adalah masyarakat,” kata Dodi.(*)

Laporan Derri Nugraha

Banner-DOnasi.png

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

− 6 = 2