Kematian bocah sepuluh tahun di Bandar Lampung bukan sekadar variabel cuaca, melainkan muara dari rancang bangun kota yang mengubur resapannya sendiri. Melalui laci kedai bandrek, tragedi ini menelanjangi birokrasi yang baru meruntuhkan dinding BPJS tepat setelah satu nyawa melayang diterjang banjir. Di saat narasi “takdir Tuhan” diproduksi penguasa, beton mal terus menelan sisa rawa dan menyempitkan sungai.
Pisau itu membelah serat jahe dengan ketukan ritmis. Di kedai bandrek, Syuhada sudah tenggelam dalam tumpukan gula merah dan rempah. Belum ada uap yang naik dari tungku. Hanya aroma pedas jahe mentah dan barisan gelas kosong. Di luar, aspal Lampung yang panas mengirimkan getaran mesin bus ke sela-sela lantai kedai.
Di tengah rutinitas itu, Satria muncul. Bocah sepuluh tahun itu datang tanpa sapa. Ia cuma berdiri dekat meja, lalu berkata, “Mak, minta uang.”
Syuhada tidak berhenti mengiris. Tangannya hanya bergeser ke laci, menarik selembar sepuluh ribu rupiah. Ia menyerahkannya tanpa mengalihkan pandangan dari mata pisau.
“Saya enggak ke sini lagi ya, Mak,” ucap Satria.
Syuhada hanya mengangguk. Ia membiarkan kalimat itu hanyut bersama deru kendaraan.
Jam dua siang, langit Bandar Lampung pecah. Di kota yang dikepung perbukitan ini, air tak hanya jatuh dari awan. Ia meluncur dari puncak-puncak bukit, mengisi kanal-kanal sempit, dan meluap dari sungai-sungai kecil yang membelah punggung permukiman.
Hujan sempat jeda, sebelum gelombang kedua datang lebih keras. Di gang-gang yang tak cukup sepeda motor berpapasan, air mengucur deras dari setiap ujung atap. Baru pada pukul setengah lima sore, langit mulai tenang.

Satria berjalan pulang. Ia mengambil jalan pintas di belakang rumah. Di sana, sebuah aliran sungai kecil membelah kampung, dijembatani oleh selembar beton tanpa pagar pengaman. Ia melangkah ke atasnya, menuju jalan yang biasa dilewati.
Saat itu, air sungai setinggi lutut. Sebagian besar badan jembatan telah hilang. Satria melangkah pelan. Ia merasakan beton yang licin di bawah telapak kakinya. Tepat di tengah, sungai itu berubah. Arus dari hulu tiba-tiba menebal, membawa massa air berwarna cokelat yang menyeret sampah kayu dan lumpur perbukitan. Dalam hitungan detik, permukaan beton lenyap dari pandangan. Tanpa pegangan di kedua sisi, tubuh kecil Satria tersapu dalam sekejap.
Bocah itu sempat bertahan di tepi beton yang terendam, sebelum tarikan air menyeretnya ke dalam pusaran.
Seorang pemuda yang melihat dari tepian langsung melompat. Namun, air tidak menyisakan ruang negosiasi. Massa air yang padat menangkap tubuhnya, memutarnya seperti ranting, lalu melemparkannya menjauh dari titik jatuh. Di antara deru arus, tangannya sempat menggapai-gapai ke arah bayangan kecil Satria yang timbul-tenggelam. Namun, gravitasi air lebih cepat; ia menyeret pemuda itu ke satu arah, sementara Satria hanyut ke kegelapan yang lain.
Di bawah permukaan, sesuatu yang keras—mungkin batang kayu atau bongkahan batu dari bukit—menghantam kakinya. Pemuda itu akhirnya merayap keluar dari sungai dengan tersengal-sengal. Kakinya berdarah. Ia berdiri di tepian, namun anak yang ia kejar sudah tidak ada di sana.
Petang jatuh, dan Satria resmi menjadi sebuah nama dalam daftar pencarian. Tim SAR menyusuri tepi kali hingga malam. Mereka berulang-ulang memanggil nama bocah itu. Namun, hanya suara arus yang terdengar.
Satria adalah anak kedua dari empat saudara. Kakaknya duduk di bangku SMP. Satu adiknya masih kelas dua sekolah dasar, satu lagi berumur tiga tahun. Mereka tinggal di sebuah kontrakan seluas tiga meter. Jadi, ada enam orang penghuni rumah itu.

Ketika Satria terbawa arus, sang kakak sedang menjaga Muhammad Roy, ayah mereka. Sudah enam bulan tubuhnya menyerah pada gagal ginjal. Hari Jumat itu, jadwal Roy cuci darah. Namun, tak ada yang mengantarnya.
Beberapa bulan lalu, Roy kehilangan akses layanan kesehatan. BPJS Kesehatan keluarga mereka tidak aktif lantaran menunggak lebih dari tiga juta rupiah. Syuhada tak punya uang. Penghasilannya dari kedai bandrek hanya cukup bayar kontrakan dan makan sehari-hari.
Syuhada akhirnya menjual televisi. Dengan uang itu, Roy bisa kembali berobat. Bagi mereka, iuran BPJS Kesehatan sebesar dua ratus ribu seperti dinding yang tak dapat dipanjat.
Malam ketika Satria hilang, rumah Syuhada dipenuhi orang. Tetangga datang lebih dahulu, disusul pejabat dan Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana. Di sana, Eva menyerahkan santunan. Baginya, ini musibah.
Malam itu juga Roy dibawa ke rumah sakit. Pemerintah yang menanggung seluruh biaya. Dinding iuran BPJS yang sebelumnya tak dapat dipanjat, runtuh oleh perintah wali kota tepat setelah Satria tak lagi di rumah itu.
Tubuh Satria baru ditemukan esok hari, pukul 8.15 WIB. Ia tersangkut delapan ratus meter dari tempatnya terseret arus. Saat kabar itu sampai ke rumah sakit, Roy meminta pulang.

Kabar kematian Satria bergerak melalui layar ponsel. Pejabat publik berdatangan ke kontrakan tiga meter itu, disusul rombongan Pemprov Lampung dan Kementerian Sosial. Istri Gubernur Lampung Purnama Wulan membawa tumpukan bahan pokok dan amplop. Di depan wartawan, mereka mengulang narasi yang sama: ini musibah dan takdir Allah.
Jasad Satria dibaringkan di pemakaman umum. Tanahnya masih lembek oleh sisa hujan. Ketika semua orang pulang, Syuhada tetap duduk di depan nisan. Air matanya jatuh perlahan.
Syuhada pulang dengan kaki yang masih kotor oleh sisa tanah makam. Di dalam rumah, ia duduk bersama Roy dan tiga anaknya. Di luar, kerabat mulai mengatur logistik tahlilan. Suara mesin traktor terdengar dari balik dinding kontrakan. Ia datang dari samping sungai kecil, lokasi Satria hanyut. Di sana, sebuah mal sedang dibangun di atas bekas rawa yang dahulu menampung air hujan.
Raung traktor itu menandai angka-angka yang hilang. Di Bandar Lampung, Ruang Terbuka Hijau (RTH) tersisa 2,3 persen dari luas wilayah kota. Izin pembangunan di lereng perbukitan dan wilayah resapan tetap dikeluarkan, sementara sungai-sungai menyempit akibat pendangkalan dan tumpukan material proyek.

Ketika hujan turun lama, air tidak lagi punya tempat untuk diam. Ia mengalir ke gang-gang sempit, rumah-rumah warga, atau sungai kecil yang dilalui anak-anak sepulang bermain.
Kematian Satria adalah bagian dari catatan itu. Tahun lalu, delapan warga kota ini meninggal diterjang banjir. Dalam dua tahun terakhir, sudah lebih dari sepuluh nyawa melayang di jalur air yang sama.
Syuhada membayangkan rawa di samping kontrakannya masih ada. Air mungkin tidak akan sebesar hari itu. Satria barangkali masih berdiri di dekat meja kedai dan meminta uang jajan sepuluh ribu rupiah.
Namun, uang sepuluh ribu terakhir sudah berpindah tangan kemarin siang. Besok, Syuhada akan kembali membelah jahe. Ia harus memberi makan tiga anaknya dan membayar biaya pengobatan suami. Di balik tembok, traktor terus bekerja—menderu pelan, menimbun sisa rawa, dan mengubur jejak air yang sore itu membawa Satria pergi.(*)
Laporan Derri Nugraha







