Pengalaman pengemudi ojek online menunjukkan pergeseran makna kerja dalam sistem berbasis aplikasi. Melalui kisah Marbudin dan Linda, fleksibilitas dalam ekonomi gig berubah menjadi kondisi siaga tanpa henti. Batas antara kerja dan waktu hidup menjadi kabur dalam praktiknya. Di tengah peringatan Hari Buruh Internasional, muncul ironi struktural: perayaan kerja layak berlangsung di ruang publik, sementara sebagian pekerja tidak memiliki ruang dan waktu untuk berhenti sejenak.
Sudah hampir dua jam Marbudin duduk di selter ojek online itu.
Malam di tepi Kota Bandar Lampung masih berdenyut. Lampu kendaraan melintas, suara knalpot bersahutan, orang-orang datang dan pergi. Tetapi, di layar ponselnya, tidak banyak yang berubah.
Tidak ada notifikasi. Tidak ada penumpang. Hanya tampilan aplikasi yang tetap sama.
Tangannya berkali-kali membuka layar, menutupnya lagi, lalu membukanya kembali. Di sekelilingnya, beberapa pengemudi lain melakukan hal serupa. Ada yang berbincang pelan. Ada pula yang hanya diam, menatap layar ponsel masing-masing.
Hari itu, ia mulai bekerja sejak pukul sebelas siang. Enam orderan sudah selesai. Jika dihitung, waktunya hampir menyentuh dua belas jam. Namun, yang benar-benar dibayar hanya beberapa jam: saat ia mengantar penumpang. Sisanya, habis dalam penantian.
Marbudin berusia 53 tahun. Sejak 2019, ia menjadi pengemudi ojek online. Lapangan kerja yang sempit mendorongnya masuk ke sektor informal itu. Ia memiliki dua anak: satu sudah menikah, satu lagi masih duduk di bangku SMP.
Lelaki paruh baya itu tinggal di Bandar Sari, Lampung Tengah. Jaraknya lebih dari 60 kilometer dari Bandar Lampung, tempat ia mencari nafkah.
Setiap hari, Marbudin tidak pulang.
Ia menumpang di masjid-masjid sekitar kota. Lantai dingin, suara kipas angin, dan tas kecil berisi pakaian menjadi teman malamnya. Seminggu sekali ia pulang ke rumah, membawa hasil yang sering kali tidak seberapa.
Sekitar seratus lima puluh ribu rupiah—itulah yang bisa ia sisihkan setelah biaya makan, bensin, dan kebutuhan lain.

Di kampungnya, layanan ojek online belum tersedia. Tidak ada pasar bagi tenaganya. Karena itu, ia harus datang ke kota dan menetap di sela-sela ruang publik.
Di tengah menunggu pesanan, ia menggeser posisi duduk, menatap jalan yang masih dilalui kendaraan, lalu kembali ke layar. Rutinitas kecil itu berulang, seperti jarum jam yang tersangkut di satu titik.
Bagi banyak pekerja, delapan jam sehari menjadi batas antara kerja dan hidup. Ada waktu masuk, ada waktu pulang. Ada ruang untuk berhenti.
Bagi pengemudi ojek online, batas itu nyaris tak terlihat.
Mereka akrab dengan istilah fleksibilitas—waktu yang terasa longgar, seolah bisa diatur sendiri. Namun, dalam praktiknya, kelonggaran itu sering berubah menjadi jebakan.
Separuh hari habis bukan untuk bekerja dalam arti yang lazim dipahami, melainkan menunggu. Menunggu orderan masuk. Menunggu sistem memilih secara acak. Menunggu algoritma memberi kesempatan.
Waktu tunggu itu tidak pernah benar-benar dianggap sebagai kerja. Tidak ada upah. Tidak ada lembur. Tidak ada kompensasi. Ia dianggap kosong. Padahal, justru dalam waktu yang dianggap kosong itulah platform tetap hidup.
“Kalau semua ojol mematikan aplikasi, pihak aplikasinya ikut mati juga, kan?” kata Marbudin.
Maksudnya sederhana: selalu harus ada pengemudi yang siaga, tersedia kapan saja, agar pesanan bisa langsung diterima. Jika semua orang berhenti menunggu, aplikasi tidak punya siapa pun untuk bergerak.
Marbudin tidak menyebutnya dengan istilah rumit. Baginya, kalau tidak menunggu, tidak akan ada orderan. Kalau tak ada orderan, tidak ada uang.
Maka, ia tetap menunggu.
Karena dalam sistem ini, diam adalah risiko.
Jika terlalu lama tak bergerak, akun bisa dianggap tidak produktif. Jika tak produktif, peluang semakin kecil. Pilihan yang tersisa hanya tetap berada di dalam siklus: online, menunggu, menerima, mengantar, lalu kembali menunggu.
“Kalau akun anyep, keluarga di kampung mau makan apa?” ujarnya sambil sesekali mengecek ponsel.
Di sudut lain kota, ritme yang sama dijalani Linda.
Pagi itu, ia keluar rumah sejak pukul delapan. Menjelang magrib, orderan yang berhasil ia selesaikan baru enam. Ia biasanya baru pulang selepas isya. Dari pagi hingga malam, lebih dari separuh waktunya habis bukan untuk mengantar pesanan, tetapi menunggu.
Menunggu orderan masuk. Menunggu aplikasi memilih. Menunggu kesempatan datang.

Kadang ia berhenti di pinggir jalan, membuka ponsel, lalu menatap layar cukup lama. Kadang tidak ada bunyi apa pun. Kadang notifikasi muncul, tetapi jaraknya terlalu jauh atau ongkosnya terbilang kecil.
Seperti Marbudin, ia tahu waktu tunggu bukan sekadar jeda. Aplikasi harus tetap menyala. Jika terlalu sering dimatikan, akun bisa “dingin” dan orderan akan semakin jarang.
Itulah mengapa hari-harinya berjalan dalam pola yang nyaris tak berubah: menunggu, menerima, mengantar, lalu kembali menunggu.
Ia pernah membayangkan waktu tunggu yang panjang itu diakui sebagai kerja. Seperti pekerja pada umumnya, jika sudah bekerja melampaui delapan jam, seharusnya ada tambahan insentif—semacam lembur, atau bentuk penghargaan lain.
Namun, harapan terasa jauh. Bahkan, hal mendasar seperti tunjangan hari raya atau jaminan sosial pun tak pernah benar-benar hadir sebagai hak.
Linda menjadi pengemudi bukan tanpa alasan. Dua anaknya masih menempuh pendidikan, salah satunya kuliah. Sementara, kebutuhan rumah terus berjalan. Menjadi pengemudi adalah cara yang bisa ia tempuh untuk menambal semuanya.
Namun, sebagai pengemudi perempuan, beban itu datang berlapis.
Pada awal-awal bekerja, ia masih menarik penumpang. Tetapi, pengalaman di jalan tak selalu aman. Ada penumpang bersikap kurang pantas, percakapan menjurus pada pelecehan, hingga situasi yang membuatnya harus terus waspada.
Sejak itu, Linda membatasi diri. Ia hanya mengambil pesanan antar makanan atau barang.
Seharian di jalan tidak berarti pekerjaan selesai.
Setelah berjam-jam menunggu dan mengantar pesanan, Linda masih menghadapi urusan rumah. Dapur, cucian, dan pekerjaan domestik lain sudah menanti.
Ketika urusan rumah selesai, malam sudah terlalu larut untuk banyak hal.
Percakapan dengan anak-anak sering tak terjadi. Linda lebih dahulu rebah karena lelah. Esok pagi, ia harus kembali ke jalan.
Linda tidak banyak bicara tentang perubahan besar. Ia hanya bertahan, menjalani hari demi hari.
Di sela menatap layar aplikasi, notifikasi lain ikut berseliweran: kabar tentang perayaan Hari Buruh Internasional, ajakan turun ke jalan, poster-poster beredar di grup dan media sosial.

Bagi Linda dan Marbudin, ruang untuk hadir di sana terasa sempit. Bukan tak peduli, melainkan karena satu hari tidak bekerja berarti satu hari tanpa pemasukan. Di tengah kebutuhan yang terus berjalan, berhenti sejenak pun harus dihitung ulang.
Apa yang dijalani Marbudin dan Linda sebenarnya memiliki nama.
Arif Novianto menyebutnya sebagai komodifikasi waktu tunggu—ketika waktu diam manusia pun ikut dieksploitasi.
Dalam sistem kerja konvensional, delapan jam memberi batas antara kerja dan hidup. Pada ekonomi gig, batas itu kabur. Pengemudi bisa sarapan sambil tetap on-bid, menunggu anak pulang sekolah seraya menatap layar, bahkan tidur di atas motor agar tetap siap menerima order.
Tak ada lagi waktu yang benar-benar bebas.
Yang ada, hanya waktu yang bisa dijadikan nilai tukar.
Dalam bukunya, Menunggu dan Matinya Waktu Luang, Arif menggambarkan kebiasaan para pengemudi—menunggu di pinggir jalan, menatap layar aplikasi, memantau peta, lalu bereaksi cepat saat notifikasi masuk—sebagai bentuk paling murni dari kerja perhatian.
Kerja ini nyaris tak terlihat, tak dihitung, dan tak dibayar. Namun, justru di sanalah fondasi algoritma berdiri.
Setiap detik yang dihabiskan pengemudi untuk tetap online memperkaya data platform, memperbaiki sistem prediksi permintaan, dan menjaga pengalaman pelanggan tetap mulus.
Dengan kata lain, waktu tunggu bukan sekadar jeda. Ia adalah kerja tak kasatmata yang menopang ekonomi data global.
“Tanpa kesadaran kolektif, sistem yang tidak berpihak pada pekerja akan terus berjalan. Karena itu, harus ada upaya bersama untuk melawan dan membongkarnya,” kata Arif.
Menjelang malam, Linda masih di jalan. Marbudin menunggu di selter.
Di tempat lain, orang-orang membawa spanduk, meneriakkan tuntutan, berbicara tentang kerja layak dan hidup yang lebih adil.
Bensin harus dibeli. Makan harus ada. Esok pagi, pekerjaan yang sama akan dimulai lagi.
Aplikasi tetap menyala.
Linda terdiam ketika membicarakan Hari Buruh. Ia menatap layar ponselnya, lalu berkata pelan:
“Hari Buruh itu sebenarnya buat siapa, kalau banyak buruh bahkan tak punya waktu untuk berhenti sebentar?”(*)
Laporan Derri Nugraha







