Konsentris hadir sebagai cara lain membaca Lampung melalui jurnalisme yang memilih tinggal lebih lama pada persoalan. Dari liputan satwa hingga penolakan kerja sama yang berpotensi menggeser independensi, praktik kerjanya memperlihatkan keteguhan menjaga jarak dari logika viralitas, angka impresi, dan kepentingan yang menentukan arah liputan. Di usia kelima ini, pertanyaan “bagaimana kabar konsentris?” menjadi refleksi lebih luas tentang keberlanjutan jurnalisme yang bertahan bukan karena ramai dibaca, melainkan berani menolak untuk dibeli.
Riza Salman | Jurnalis
Ada pertanyaan yang hampir selalu saya ajukan setiap kali bertemu Derri Nugraha, pendiri konsentris. Bukan soal kesehatan. Bukan pula tentang liputan terbaru.
“Bagaimana kabar konsentris?”
Perkenalan saya dengan konsentris bermula dari Derri. Kami bertemu ketika sama-sama meliput isu satwa liar. Di sela-sela peliputan, ia bercerita tentang media yang dibangunnya bersama beberapa orang dengan sumber daya yang jauh dari kata mewah. Modal mereka hanyalah keberanian dan keyakinan bahwa jurnalisme masih pantas dikerjakan secara serius.
Saya sempat bertanya-tanya, berapa lama media seperti ini bisa bertahan. Toh, kita hidup pada masa ketika judul bombastis lebih dihargai daripada laporan yang diverifikasi berbulan-bulan. Kecepatan lebih sering diutamakan daripada ketepatan. Sesuatu yang viral kerap dijadikan ukuran keberhasilan ketimbang dampaknya.
Untungnya, saya keliru.
Konsentris tak hanya bertahan. Ia bertumbuh.
Bersamaan dengan itu, cara saya memandang Lampung pun berubah.
Bagi banyak orang, Lampung lebih sering hadir melalui berita tentang konflik. Gesekan manusia dengan gajah di tepian Taman Nasional Way Kambas, ekspansi sawit yang terus menggerus ruang hidup satwa, hingga jalan-jalan rusak yang baru menjadi perhatian nasional setelah Presiden Joko Widodo turun langsung meninjaunya pada 2023. Sebuah daerah sering kali baru dianggap ketika sedang bermasalah.
Namun, bagi saya, Lampung memiliki wajah lain.
Wajah itu saya kenal melalui konsentris.
Lewat media inilah saya menyadari bahwa Lampung bukan sekadar kumpulan krisis yang sesekali menjadi tajuk utama media nasional. Di balik berbagai peristiwa, ada jurnalis yang memilih tinggal lebih lama, mendengar lebih saksama, dan menggali lebih dalam.
Mereka bukan sekadar memberitakan banjir, tetapi mengusut mengapa bencana itu terus berulang. Mereka tidak berhenti pada konflik satwa, tetapi mengurai bagaimana pembangunan perlahan menyempitkan ruang hidupnya. Mereka tak mengejar peristiwa, melainkan mencari akar persoalan.
Sejak itu, setiap kali bertemu Derri, saya hampir selalu mengulang pertanyaan yang sama.
“Bagaimana kabar konsentris?”
Pertanyaan itu lahir dari banyak hal.
Dari liputan-liputan yang mereka kerjakan. Dari keberanian yang mereka pertahankan. Dari keyakinan bahwa jurnalisme bisa mengubah sesuatu.
Salah satu yang paling membekas bagi saya adalah kisah kukang-kukang yang mati tersengat listrik ketika berpindah dari satu pohon ke pohon lain.
Di tangan media yang tergesa-gesa, peristiwa itu mungkin hanya menjadi berita satwa sepanjang beberapa ratus kata. Konsentris memilih jalan yang berbeda.
Mereka tidak berhenti pada kabar bahwa ada kukang yang mati. Mereka bertanya lebih jauh.
Mengapa itu terjadi?
Siapa yang harus bertanggung jawab?
Apa yang harus diubah?
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat liputan tersebut melampaui sebuah berita. Hasilnya bukan sekadar pembaca mengetahui ada kukang mati. Liputan itu ikut mendorong perubahan tata kelola jaringan listrik agar lebih ramah terhadap satwa liar.
Dari situ, saya semakin memahami mengapa konsentris memilih tinggal lebih lama pada sebuah persoalan. Tujuannya bukan sekadar melaporkan peristiwa, melainkan memastikan peristiwa itu benar-benar dipahami.
Di titik itulah saya mulai percaya bahwa jurnalisme belum kehilangan relevansinya.
Barangkali, relevansi itu justru mulai memudar ketika media merasa tugasnya selesai setelah menekan tombol “publish.”
Keyakinan itu tak datang hanya dari satu liputan. Ada hal-hal lain yang saya dengar langsung dari Derri.

Pernah suatu waktu ia bercerita tentang sebuah liputan yang membuatnya harus menjual Honda bebek kesayangannya. Motor itu, katanya, menjadi cara untuk mengurangi risiko setelah laporan tersebut terbit.
Motor tua itu bukan sekadar kendaraan. Ia saksi bisu perjalanan mencari fakta.
Saya mendengarnya sambil berpikir betapa rapuh sekaligus kerasnya pekerjaan ini.
Di negeri yang begitu sering menggaungkan pentingnya demokrasi, terkadang justru orang-orang yang bekerja memastikan demokrasi memiliki informasi yang layak menanggung beban terbesar.
Namun, mungkin cerita yang paling mengubah cara saya melihat konsentris bukan tentang liputan berisiko. Melainkan soal penolakan.
Mereka pernah menolak kerja sama yang secara finansial sangat membantu. Bukan karena program itu tak penting. Justru sebaliknya. Program tersebut membawa isu kemanusiaan yang penting.
Masalahnya sederhana: ada harapan agar media ikut mengangkat isu tertentu sesuai kepentingan pihak yang mengajak kerja sama.
Banyak orang mungkin akan menganggap itu wajar. Toh, tidak ada yang dirugikan secara langsung.
Tetapi, justru dari kompromi-kompromi kecil seperti itulah independensi media perlahan berubah menjadi komoditas. Konsentris memilih mengatakan tidak. Di zaman ketika independensi sering diperlakukan sebagai slogan, keputusan seperti itu terasa absurd.
Lebih tak masuk akal lagi ketika saya tahu Derri membangun usaha kuliner untuk menjaga dapur medianya tetap menyala. Bayangkan, ada orang yang harus menjual makanan agar ruang redaksi tidak terjual.
Di berbagai tempat peliputan, saya sering membayangkan satu hal sederhana.
Seandainya setiap provinsi memiliki satu media seperti konsentris, mungkin ruang publik kita akan lebih sehat. Kekuasaan akan sedikit lebih berhati-hati. Warga akan lebih mudah menemukan kebenaran yang tidak dikemas sebagai hiburan.
Selama ini, kita terlalu sering mengatakan bahwa jurnalisme adalah pilar demokrasi. Tetapi, pilar tak pernah berdiri sendiri. Ia harus dirawat, dijaga, bahkan kadang diselamatkan dari godaan menjual diri.
Kalimat itu, bagi saya, menemukan bentuknya pada konsentris.
Di tengah tekanan algoritma, angka impresi, dan arus kerja sama yang kerap menentukan arah liputan, mereka memilih ritme yang tak selalu menguntungkan. Ritme yang tidak dibentuk oleh kecepatan, melainkan oleh ketekunan untuk tetap bertanya lebih lama sebelum sebuah cerita ditutup.
Barangkali itu pula sebabnya, setiap kali bertemu Derri, saya hampir selalu kembali pada satu pertanyaan yang sama.
“Bagaimana kabar konsentris?”
Pada usia kelima ini, saya tidak berharap konsentris tumbuh menjadi media terbesar. Saya hanya berharap, mereka tetap menjadi media yang paling keras kepala dalam mempertahankan independensinya.
Sebab, pada akhirnya, jurnalisme tidak runtuh ketika kehilangan pembaca. Ia mulai tumbang ketika kehilangan keberanian untuk berkata: kami tak bisa dibeli.(*)







